Cinta
dan cita-cita merupakan suatu hal yang sangat dekat dan ada pada diri kita,
yang mana antara dua hal tersebut mempunyai kaitan yang sangat kuat bagi
masing-masing individu dan juga mempunyai sifat yang bertolakbelakang pada diri
manusia. Dan setiap orang memiliki arti yang berbeda saat mendeskripsikan dua
hal ini, cinta dan cita-cita. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwasanya
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang
yang kuat dan ketertarikan pribadi. Sedangkan cita-cita merupakan suatu
keinginan kuat seseoarang dalam meraih apa yang ia inginkan dengan cara
semaksimal mungkin.
Dalam konteks filosofi, cinta merupakan sifat
baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan
manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian. Menurut Erich Fromm, ada lima syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu: perasaan,
pengenalan, tanggung jawab, perhatian, serta saling menghormati. Ketika lima
syarat ini berhasil kita lewati, maka akan kita akan merasakan cinta kasih
tersebut.
Sedangkan cita-cita adalah sebuah keinginan kuat untuk mencapai
tujuan dengan tekad yang kuat didalam
hatinya. Sama halnya dengan cinta, cita-cita pun ada dan tumbuh dalam diri
manusia tanpa melihat siapakah dia, anak kecil kah ataupun anak dewasa, bahkan
sedari kecilpun anak terkadang telah mempunyai cita-cita. Misalnya, “ketika aku
besar nanti, aku ingin menjadi guru, agar kelak aku bisa mengamalkan semua ilmu
yang telah kudapat”. Atau mungkin ketika kecil “aku ingin menjadi seorang
tentara, agar kelak bisa menjaga keamanan negaraku”.
Mungkin sekilas itu adalah beberapa cita-cita seorang anak kecil
belaka, tetapi ketahuilah, kita tidak boleh meremehkan atas cita-cita seorang
anak kecil, karena cita-cita tersebutlah yang akan membawanya ke masa depan
nanti, meskipun tak selamanya cita-cita ketika masih kecil dulu akan sama
jadinya ketika sang anak telah menginjak dewasa. Mungkin saja cita-cita mereka
ketika dahulu kecil berubah setelah mereka mendapatkan ilmu dan wawasan yang
lebih luas lagi.
Ketika sang anak telah mempunyai suatu cita-cita, hendaknya sang
orang tua ikut memberikan respon yang positif terhadap cita-cita sang anak.
Ikut serta dalam pengawalan sang anak dalam menggapai cita-citanya, karena
sejatinya faktor dukungan terbesar sang anak untuk meraih kesuksesannya adalah
dukungan dari orang terdekatnya, yaitu orang tua serta keluarganya.
Di lain hal, cita-cita juga memiliki manfaat tersendiri bagi setiap
individu, antara lain : (1) Hidup mempunyai arah dan tujuan, yang mana hal ini
bisa meningkatkan suatu kesemangatan pada diri seseorang untuk menemukan tujuan
hidupnya dan dapat menemukan jati dirinya, (2) Niat dan mental makin terasah
dan kuat, karena semua pekerjaan itu diawali dengan niat, dan mental sebagai teman
yang bisa menguatkan suatu cita-cita, (3) cita-cita membuat kita untuk belajar
disiplin dan diasah terus. Karena dari disiplin seorang manusia mampu untuk
mengejar cita-citanya sesuai dengan disiplinnya dan ilmu yang akan kita bawa
untuk meraih cita-cita tersebut harus perlu diingat selalu, agar berujung
dengan suatu yang tidak baik.
Ketika kita mempunyai cita-cita atau keinginan tekad yang kuat,
maka kita membutuhkan beberapa cara untuk menggapainya, antara lain : (1)
Mengutamakan disiplin, karena cita-cita tersebut didasarkan dengan ilmu, dan
dalam mendapatkan sebuah ilmu terdapat berbagai disiplin agar ilmu yang
didapatkan bukan hanya sembarang ilmu, dan agar kita tidak hanya mempunyai ilmu
tetapi juga memilikinya. (2) Mengutamakan kejujuran, karena kejujuran merupakan
perbuatan baik yang sangat berpengaruh pada manusia. (3) Belajar mencuri
wawasan, yang dimaksud disini adalah sebisa mungkin kita mencari dan menggali
lebih banyak lagi pengetahuan dan wawasan, karena itulah yang memudahkan kita
dalam menambah sebuah pengetahuan. (4) Positif thingking atau berpikir positif,
positif akan cita-cita yang kita punya, positif untuk mendapatkan cita-cita sesuai dengan yang kita inginkan.
Allah berfirman dalam surat Al-Ra'd ayat ke 11 :
Artinya
"Sesungguhnya Allah SWT tidak akan merubah suatu kaum sehingga kaum itu
sendiri yang merubahnya" (Q.S Ar-Ra’ad:11)
Ayat
tersebut menjelaskan bahwa Allah tidak akan merubah keadaan umatnya sebelum
umatnya sendiri yang merubahnya. Jadi, ketika seseorang belum mendapatkan hasil
terbaik dalam penggapaian cita-citanya, berusahalah untuk merubahnya dengan
cara bekerja lebih tekun dan giat lagi dalam meraih cita-cita yang tertunda
tersebut.
قل
هل سيتوى الذين يعلمون و الذي لا يعلمون
Penggalan
ayat tersebut memberikan motivasi terhadap orang banyak untuk lebih giat lagi
mencari ilmu. Karena derajat orang yang berilmu juga lebih besar dibanding
dengan orang yang tidak memiliki ilmu.
Sebagian orang terkadang bingung dalam menentukan pilihan,
antara cinta dan cita-cita. Karena dua hal ini ada pada diri manusia itu.
Tetapi, alangkah baiknya kita lebih mengutamakan cita-cita dahulu, karena
ketika kita telah meraih cita-cita sesuai dengan apa yang kita inginkan,
pastinya kita telah mempunyai ilmu, bukan hanya mempunyai ilmu tetapi memilikinya.
Ketika cita-cita telah terwujud maka dengan mudah kita bisa mengatasi rasa
cinta yang hadir pada kehidupan kita. Dan cita-cita akan mengiringi cinta yang
akan kita punya, tepatnya kejalan yang lebih baik.Ketika cinta datang menyapa dan kamu merasa belum siap,
jangan takut untuk menolaknya. Karena itu adalah hakmu untuk mendapatkan apa
yang kau inginkan. Berilah alasan yang jelas kalau kamu ingin mewujudkan
impianmu dulu agar kelak tidak menyesal dikemudian.
Jadi,
ketika kita dihadapkan pada pilihan antara cinta dan cita-cita, maka alangkah
baiknya kita mendahulukan cita-cita. Cita-cita dapat membawa kita kepada apa
yang kita inginkan dan dapat mengiringi cinta yang ada pada diri kita ke cinta
hakiki karena Allah. Sedangkan cinta tak selamanya ia bisa membawa cinta pada
tujuannya, bisa saja cinta membawa ke jalan yang benar atau justru sebaliknya.
Komentar
Posting Komentar