Langsung ke konten utama

Perkembangan Organisasi Islam Muhammadiyah Serta Perannya Dalam Kehidupan Beragama di Indonesia

Perkembangan Organisasi Islam Muhammadiyah Serta Perannya Dalam Kehidupan Beragama di Indonesia
A.    Latar Belakang
Indonesia dengan julukan Negara Maritim memiliki culture budaya serta agama yang beragam, dalam hal ini wilayah Indonesia pun terbentang mulai dari Sabang hingga Merauke, begitu juga dengan agama mulai dari agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong hucu terhimpun menjadi satu. Dalam hal ini Islam merupakan salah satu agama yang mendominasi negara ini, maka tak jarang Indonesia pun terkenal hingga luar negeri dengan mayoritas penduduk muslim. Dikarenakan mayoritas beragama Islam, maka sejak merdekanya Indonesia banyak pula organisasi Islam yang muncul dan berkembang, yang tadi diawalnya hanya ada organisasi MASYUMI, kini telahberkembang menjadi puluhan organisasi Islam, Muhammadiyah, Nadhatul Ulama, Hizbut Tahrir Indonesia, Front Pembela Islam dan lain sebagainya.
Muhammadiyah sering disebut sebagai gerakan pembaharuan sosio-religius. Hal ini dikarenakan Muhammadiyah telah banyak berperan penting dalam perubahan kehidupan sosial keagamaan di Indonesia sejak awal berdirinya.[1] Latar belakang berdirinya Muhammadiyah juga dikarenakan beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Adapun latar belakang internalnya dipengaruhi oleh pribadi pendirinya yakni KH. Ahmad Dahlan, dalam hal ini beliau terinspirasi dari QS. AliImran:104. Bahwa perlu diadakan suatu golongan yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, faktor internal lainnya adalah karena pada saat itu (tahun 1900-an) umat muslim berada dalam kondisi yang memprihatinkan, miskin, bodoh, terpinggirkan. Sedangkan faktor eksternalnya ialah praktek ajaran agama Islam yang tercampur dengan ajaran lain, dan juga adanya aktivitas misi kristen (kristenisasi).
Namun tidak hanya Muhammadiyah yang merupakan organisasi Islam, namun ada juga Nadhatul Ulama yang mana perannya tidak jauh berbeda dengan Muhammadiyah, yang mana kedua organisasi ini memiliki pengikut dan pengaruh cukup besar dalam perkembangan agama Islam, tidak hanya dalam bidang keagamaan namun semua aspek, baik dari bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan lainnya. Nadhatul Ulama yang memiliki singakatan NU yang berarti Kebangkitan Ulama atau kebangkitan cendekiawan Islam, yang mana organisasi ini berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Sedangkan Muhammadiyah diambil dari nama Nabi Muhammad yang berarti orang-orang yang menjadi oengikut Nabi Muhammad SAW. Organisasi ini berdiri pada tanggal 18 November 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan.
Dengan memperhatikan pembahasan antara kedua organisasi ini, maka penulis ingin membahas lebih mendalam tentang sejarah Muhammadiyah serta perannya terhadap perkembangan umat Islam Indonesia, baik dari segi politik, sosial, ekonomi agama dan lain sebagainya.

B.     Sejarah Lahirnya Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah nama salah satu organisasi di Indonesia yang mempunyai dasar Islam dan sifatnya sebagai gerakan. Asas dan tujuan Muhammadiyah itu sendiri adalah Untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Organisasi Muhammadiyah ini berdiri resmi pada tanggal 8 Dzul-hijjah 1332 H atau 18 November 1912 M, dan pertama kali organisasi ini berdiri di Kampung Kauman Yogyakarta.[2]
Jika ditelaah melalui etimologis, Muhammadiyah berasal dari bahasa arab, yakni dari kata "محمد" yaitu nama Nabi dan Rasul Allah yang terakhir. Muhammad itu juga berarti terpuji. Kemudian mendapatkan tambahan ya’ nisbah yang berarti pengikut, jadi Muhammadiyah adalah Kelompok Pengikut Nabi Muhammad SAW. Dan jika dilihat secara Ternimologis, menurut sumber-sumber yang ada dijelskan bahwasanya Muhammadiyah adalah Organisasi gerakan dakwah Islam amar ma’ruf, nahi mungkar dan tajdid, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan as-Sunnah, dan  ada juga yang menjelaskan  Muhammadiyah adalah organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan di Yogyakarta.
Nama pendiri persyarikatan Muhammadiyah ini adalah K.H Ahmad Dahlan yang merupakan penduduk asli Kampung Kauman tersebut. Beliau bukanlah dari golongan kaum Intelektual yang mendapatkan pendidikan Barat, melainkan beliau hanyalah seorang Kyai alim dan berfikir secara modern serta mempunyai pandangan ke depan. Beliau sendiri bisa membentuk sebuah organisasi dikarenakan beliau mempunyai banyak hubungan dengan orang-orang terpelajar pada saat itu, tak hanya itu beliau juga bergaul dengan para pengurus Budi Utomo lainnya.[3]
Dalam pembentukannya, Muhammadiyah sendiri kembali pada perintah Al-Qur’an dalam surah Ali Imran ayat 104 yang berbunyi: “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. Dari sini menurut para tokoh Muhammadiyah sendiri mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara terorganisasi, umat yang bergerak, yang juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi.
Untuk menguatkan posisi Muhammadiyah, maka dirumuskan pula pilar Muhammadiyah, yakni Muhammadiyah sebagai gerakan purifikasi aqidah Islam, Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid, Muhammadiyah sebagai gerakan mobilisasi amal shaleh, Muhammadiyah sebagai gerakan pencerahan (al-Tarbiyah) dan Muhammadiyah sebagai gerakan  non politik praktis.
Pada masa awal kepemimpinan K.H Ahmad Dahlan (1912-1923), daerah pengaruh Muhammadiyah masih terbatas, masih dalam wilayah Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan. Kemudian setelah cabang berada di Yogya, pengaruh ke sebagian wilayah pun dimulai pada tahun 1922. Pada tahun 1925, Abdul Karim Amrullah membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam dan akhirnya bisa menyebar secara cepat ke seluruh wilayah Sumatera Barat dan diikuti oleh sebagian wilayah Sumatera kemudian Sulawesi dan Kalimantan. Dan pada tahun 1938, Muhammadiyah telah tersebar ke seluruh Indonesia.[4]
Mengenai lambang dan bendera Muhammadiyah memiliki ciri khas tersendiri, antara lain bendera yang berbentuk persegi panjang berukuran dan berbanding tiga bergambar lambang Muhammadiyah ditengah dan tulisan muhammadiyah dibawahnya, berwarna dasar hijau dengan tulisan dan gambar berwarna putih.[5] Dan juga pemberian nama Muhammadiyah oleh K.H Ahmad Dahlan diharapkan agar warga Muhammadiyah dapat menyamakan dan mengikuti Nabi Muhammad SAW dalam segala tindakannya, serta organisasi itu merupakan suatu perantara dalam melaksanakan tujuannya.[6]
Dengan perkembangan Muhammadiyah yang sangat pesat, diantara amal usaha yang telah dimiliki Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan kemasyarakatan antara lain : bidang pendidikan (TK=3.980; SD=6.728; SMP=3.279; SMA=2.776; Kejuruan=101; Pesantren=32; Perguruan Tinggi=176). Dan juga memeiliki tanah wakaf 29.808.164,60 ha. Dan juga dalam bidang kesehatan yakni, PKU=47; Poliklinik=217; Klinik Bersalin=70 dan akademik perawat=62 buah.[7]


C.    Konsep Pemikiran Muhammadiyah
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang ingin mengembalikan kembali pemikiran umat kepada sesuatu yang berlandasakan al-Qur’an dan as-Sunnah kembali, dengan ini cara yang digunakan Muhammadiyah dalam memahami Islam dilakukan secara komprehensif, aspek aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah dunyawiyah yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini aspek aqidah lebih banyak didasarkan pada dalil, sedangkan ta’wil dipergunakan sepanjang didukung oleh hal-hal yang dapat diterima, dan aspek mu’amalah dapat ditemukan dalam dalil dalil qat’i yang disesuaikan dengan nash.[8]
Muhammadiyah dengan konsep pembaharuan cara pandang atau paham tentang Islam guna menjawab persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat kekinian. Maka dengan ini keberadaanya pun  sering dikaitkan oleh gerakan-gerakan pembaharuan didunia yang memiliki sifat dan pemikiran yang terjalin dengan kebangkitan Islam yang dipelopori oleh Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad bin Abdil Wahab, yang mana dari sederet tokoh tersebut merupakan para pelopor pembaharuan Islam. Namun sebagian pendapat pendiri Muhammadiyah menyatakan bahwasanya pemikiran gerakan mereka lebih dekat dengan Muhammad Abduh ketimbang dengan lainnya[9].


D.    Majelis-majelis yang didirikan oleh Muhammadiyah
Adapun beberapa majelis yang didirikan untuk membantu pimpinan persyarikatan Muhammadiyah agar terjalannya cita-cita serta prinsip yang telah ditetapkan, majelis-majelis itu antara lain[10]:

1.      Majelis Tarjih Tentang Islam
Salah satu majelis yang terdapat didalam struktur organisasi Muhammadiyah adalah Majelis Tarjih. Namun, sejak muktamar Muhammadiyah ke-45 tahun 2005 di Malang, Jawa Timur nama Majelis Tarjih berubah menjadi Majelis Tarjih dan Tajdid. Jika ditelisik dari namanya, Tarjih merupakan majelis yang memiliki tugas untuk memberi fatwa agar diamalkan oleh warga Muhammadiyah pada khususnya dan masyarakat umat Islam di Indonesia pada umumnya.[11]
Tarjih merupakan suatu pendekatan dalam pemberian fatwa terhadap masalah-masalah yang berhubungan erat dengan aqidah islamiyah, ibadah dan mu’amalah.[12] Tidak hanya itu, semua permasalahan yang terjadi dalam masyarakat diselesaikan dengan merujuk langsung kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Metode pendekatan dengan Tarjih ini berlangsung tidak lama, karena setelah runtuhnya pemerintahan Orde Lama (Soekarno) dan bangkitnya pemerintahan Orde Baru (Soeharto), maka ulama-ulama Tarjih pun mulai mendalami disiplin-disipin ilmu tertentu, baik dari segi nilai sosial, budaya, alam, dan juga mulai mengadopsi pendekatan-pendekatan tertentu yang dinilai cukup relevan dengan bidang kajian.[13]
Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan keagamaan memiliki dua arah (orientasi) sekaligus. Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan mengarahkan diri kepada pemahaman Islam murni yang mana kembali pada pedeoman al-Qur’an dan as-Sunnah. Kedua, Muhammadiyah mengarahkan gerakannya pada perubahan-perubahan (tajdid) dalam konteks horizontal (habun min al-nas).[14]Karena gerakan yang dilakukan oleh Muhammadiyah masih dalam lingkungan konteks kemasyarakatan, ikut dalam berperan menyelesaikan permasalahan keagamaan masyarakat.
Muhammadiyah dengan gerakan orientasinya yang cenderung mengedepankan aspek purifikasi, kemudian memunculkan kesan bahwa persyarikatan seolah memiliki corak keagamaan yang keras, sini dan anti terhadap lokalitas. Dan umat Islam yang masih berada dalam kalangan awam menilai bahwasanya gerakan ini sangat keras, ganas anti kultural dan cenderung memaksa, dan pada akhirnya mereka pun enggan bersentuhan dengan pola pemikiran pemahaman Islam versi Muhammadiyah.


2.      Majelis Pendidikan dan Kebudayaan
Dalam hal ini juga Muhammadiyah turut dalam pengembangan agama Islam menggunakan dakwah kultural yang mana dapat dipahami sebagai pendekatan dan metode dalam menyikapi keberadaan secara aktif. Yang dimaksud dalam Dakwah Kultural ini adalah Suatu pendekatan dalam rangka memahami keberislaman umat dalam bentuk sosiologis, antropologis,dan budaya. Serta perspektif yang diberikan dalam Dakwah Kultural ini digunakan untuk memahami keberislaman umat bukan atas dasar purifikasi, melainkan lebih mengenai khazanah budaya lokal.[15]

3.      Majelis Tabligh
Dalam hal ini, majelis ini memiliki tugas pokok yang penting, yakni Mempergiat dan menggembirakan dakwah Islamiyah amar ma’ruf nahi munkar serta memperteguh iman, menggembirakan dan memperkuat ibadah serta mempertinggi akhlak mulia.[16]

4.      Majelis Pembina Kesejahteraan Umat
Majelis ini bertugas untuk menggerakkan dan menghidupkan amal baik, tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

5.      Majelis Pembina Ekonomi
Majelis ini bertugas untuk membimbing kearah perbaikan kehidupan dan penghidupan sesuai dengan ajaran Islam.

6.      Majelis Wakaf dan Kehartabendaan
Majelis ini bertugas untuk mendirikan, menggembirakan dan memelihara tempat-tempat ibadah dan wakaf, serta mengurusi masalah tanah dan hak milik Muhammadiyah sebagai barang amanat yang harus dipergunakan sebagaiamna mestinya.

7.      Majelis Pustaka
Majelis ini bertugas untuk mengadakan dan menyelenggarakan penentuan siaran-siaran dalam menyebarluaskan cita-cita dalam perjuangan Muhammadiyah serta menyelenggarakan adanya perpusatakaan yang cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan dokumen organisasi.

 Majelis ini bertugas untuk membina perguruan tinggi Muhammdiyah serta memperluas Ilmu Pengetahuan, teknologi dan penelitian menurut tuntutan Islam.


E.     Dasar Dan Amal Usaha Muhammadiyah

Untuk mewujudkan masyarakat yang adil, makmurdan di ridhai oleh Allah Swt, maka dengan ini Muhammadiyah mendasarkan sgala prinsip-prinsip yang berkaitan dengan gerakan ini dalam sebuah Muqaddimah Anggaran Dasar, yaitu[17]:
1.      Hidup Manusia harus berdasar tauhid, ibadah dan ta’at kepada Allah.
2.      Hidup manusia bermasyarakat.
3.      Mematuhi ajaran-ajaran agama Islam dengan keyakinan bahwa ajaran islam itu satu-satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia dan akhirat.
4.      Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam masyarakat adalah kewajiban sebagai ibadah kepada Allah dan ikhsan kepada kemanusiaan.
5.      Ittiba’ kepada langkah perjuangan Nabi Muhammad SAW.
6.      Melancarkan amal usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi.

F.     Sifat Gerakan Muhammadiyah
Dalam keputusan Mukatamar ke 35, maka dengan ini diturunkanlah prinsip tentang sifat-sifat Muhammadiyah yang mana hal ini harus dipelihara dengan sebaik-baiknya, yaitu[18]:
1.      Beramal dan berjuanguntuk perdamaian dan kesejahteraan.
2.      Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.
3.      Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam.
4.      Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan.
5.      Mengindahkan segala hukukm, undang-undang, peraturan serta dasar dan falsafah negara yang sah.
6.      Amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik.
7.      Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan sesuai dengan ajaran Islam.
8.      Kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya.
9.      Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan Islam dalam memelihara dan membangun Negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT.
10.  Bersifat adil serta kolektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana.

G.    Hubungan Muhammadiyah dengan Politik

Menurut K.H Faqih Usman, Jika dilihat dalam segi politik, maka Muhammadiyah bukanlah sebuah organisasi politik, namun jika ada salah satu masalah yang berhubungan dengan politik dan ada kaitannya dengan agama, maka Muhammadiyah akan ikut dalam menanganinya sesuai dengan kemampuan dan cara Muhammadiyah sendiri.[19]
Muhammadiyah meyakini bahwa politik dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan salah satu aspek dari ajaran Islam dalam urusan dunawi yang harus selalu dijaga dengan aqidah yang kuat yang mana juga merupakan modal utama[20]. Karena itu dianjurkan kepada seluruh warga Muhammadiyah untuk bersifat positif dalam menjalani kehidupan politik agar terciptanya bangsa dan negara yang adil, makmur dan sejahtera.
            Dan juga dalam merealisasikan terwujudnya cita-cita Muhammadiyah yang sesuai dengan pedoman-pedomannya, maka dengan ini dibuatlah sistematika untuk memahami rumusan keyakinan Muhammadiyah beserta cita-citanya yang terbagi menjadi beberapa kelompok, antara lain: pertama, mengandung pokok-pokok persoalan yang bersifat ideologis. Kedua, mengandung persoalan mengenai faham agama menurut Muhammadiyah. Ketiga, mengandung persoalan mengenai fungsi dan misi Muhammadiyah dalam masyarakat Negara Republik Indonesia.[21]
H.    Hubungan Gerakan Muhammadiyah Terhadap Masyarakat

Untuk mencapai tujuan tujuan yang diinginkan dalam prinsip dan khittah Muhammadiyah, maka dari itu berkembanglah ajaran Muhammadiyah dengan cara mendirikan sekolah, menggerakkan pengajian dan menggalakan penerbitan dalam  berbagai bentuk.[22] Dan hingga kini Muhammadiyah telah mendirikan beberapa universitas dan berbagai sekolah mulai dari tingkat sd hingga tingkat menengah atas, baik dalam negeri maupun luar negeri. Disamping itu, ada juga organisasi Muhammadiyah yang bergerak dibidang perempuan, yakni ‘Aisyiyah dan hingga kini juga telah tersebar hampir seluruh kota di Indonesia. Dan gerakan Aisyiyah pun juga terlibat dalam bidang pendidikan, seperti yang telah kita rasakan hingga kini, dan ini merupakan salah sat cara Muhammadiyah untuk menggerakan bangsa dalam bidang pendidikan yang agamis, untuk terciptanya masyarakat yang adil dan beradab.

I.       Ikatan Remaja Muhammadiyah
Ikatan Remaja Muhammadiyah merupakan salah satu dari organisasi kecil bentukan Muhammadiyah untuk kalangan pelajaratau mahasiswa. Ikatan Remaja Muhammadiyah dahulunya bernama Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang berdiri pada tahun 1961. Latar belakang lahirnya IPM tidak jauh dari berdirinya Muhammadiyah yang menjadi sarana dakwah muslim Indonesia untuk menyeru pada amar ma’ruf dan nahi munkar. Juga sebagai sarana untuk mendidik dan membina kader.
Sebenarnya upaya pelajar Muhammadiyah untuk mendirikan organisasi pelajar sudah dimulai sejak sebelum adanya Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Pada tahun 1919 didirikan Siswo Projo yang merupakan organisasi persatuan pelajar Muhammadiyah di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1925, di Malang dan Surakarta berdiri GKPM (Gerakan Keluarga Pelajar Muhammadiyah) dan selanjutnya pada tahun 1933 berdiri Hizbul Wathan yang mana didalamnya berkumpul seluruh pelajar-pelajar Muhammadiyah.[23]

J.      Pengaruh Muhammadiyah dan Nadhatul Ulama
Nahdhatul Ulama atau yang biasa disebut NU memiliki arti sebagai Kebangkitan Ulama, yang mana didirikan oleh Syekh K.H Muhammad Hasyim Asy’ari (1817-1947) dan K.H Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971). NU lahir pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya dan hingga kini menjadi salah satu organisasi Islam dan gerakan Islam terbesar di Indonesia. Dalam hal ini NU menginginkan masyarakat untuk mengikuti kepada haluan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan tetap berlandaskan pada madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali).[24]
Disini dapat kita perhatikan bahwasanya salah satu penyebab lahirnya NU adalah merespon adanya tantangan globalisasi yang terjadi pada msa itu, yaitu Globalisasi Wahabi, yakni ketika Arab Saudi dikuasai oleh kelompok Wahabi dan dunia Islam banyak mengimpor gagasan Wahabi dalam bentuk pemunian Islam. [25]
NU menganut faham ahl al-sunnah wa al-jama’ah, yakni sebuah pola pikir yang menhambik jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skriptualis). Maka dari itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya beradasarkan atas Al-Qur’an dan Hadits, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik.[26] Yang dimaksud realitas empirik disini adalah (Ataufiqur)
Orientasi Ijtihad yang dilakukan oleh NU ini bertolak belakang dengan orientasi Ijtihad yang digunakan Muhammadiyah yang menanungi Majelis Tarjiih Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi sosial keagamaan yang non madzhab, meskipun seperti itu Muhammadiyah tetap berlandaskan pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan metode tajdid yang digagas oleh pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan itu bersifat pemurnian (purifikasi) dan perubahan ke arah kemajuan (dinamisasi) yang semuanya berpijak pada pemahaman tentang Islam yang kokoh dan luas.[27]
Menurut Dr. H. Anwar Harjono yang pernah menanyakan kepada KH. A.Wahid Hasyim mengenai perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, menurut beliau “Tidak ada. Kalaupun ada perbedaam, itu hanya terbatas pada soal metode pengambilan kesimpulan hukum. Kalau Muhammadiyah melihat masalah dari atas ke bawah, yakni Qur’an, Sunnah baru pendapat ulama, sedangkan NU melihat masalah dari bawah ke atas, yakni pendapat ulama, Sunnah kemudian Qur’an.[28]




KESIMPULAN
Muhammadiyah merupakan  salah satu gerakan organisasi Islam yang aktif di Indonesia, dengan konsep tajdid nya yakni kembali pada ajaran yang terdapat pada al-Qur’an dan as-Sunnah lah yang menguatkan keberadaan dan prinsip mereka. Kelahiran Muhammadiyah pun disebabkan oleh keinginan KH.Ahmad Dahlan untuk memperbaiki aqidah umat Islam, yang karena pada zaman tersebut masih banyak permasalahan-permasalahan tentang agama yang melenceng.
Dengan  ini perkembangan Muhammadiyah  pun telah menyeluruh. Tidak hanya dalam bidang agamis saja, namun menyeluruh mulai dari sosial, budaya hingga politik.  Dari gerakan-gerakan serta majelis majelis yang didirikannya itulah yang menjadi salah satu perekat antar sesama masyarakat. Dan pada hakikatnya tidak ada perbedaan yang terjadi antara NU dan Muhammadiyah, semuanya sama, sama sama menyeru kepada jalan Allah, namun mungkin dengan jalan serta pemahaman yang berbeda.





















DAFTAR PUSTAKA
Anshori, I. (2014). Perbedaan Metode Ijtihad Nadhatul Ulama dan Muhammadiyah Dalam Corak Fiqih di Indonesia. NIZAM, 132-133.
Ataufiqur. (t.thn.). Gerakan Muhammadiyah di Indonesia.
Badawi, M. D. (1998). Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Muhammadiyah 1912-1985. Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Fakhruddin, A. (2005). Mengenal dan Menjadi Muhammadiyah. Malang: UMM Press.
Haq, M. I. (2008). Al-Islam II Muhammadiyah dan Pembaharuan Islam. Sukabumi: Universitas Muhammadiyah Sukabumi.
Kholis, A. N. (t.thn.). Gerakan Muhammadiyah.
Ma'arif, A. S. (t.thn.). Strategi Muhammadiyah.
Pedoman Hidup Islam Warga Muhammadiyah. (t.thn.). 2.
Rasio, Y. R. (t.thn.). Gerakan Muhammadiyah di Indonesia.
Ridwan, N. K. (2008). NU dan Neoliberalisme: Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad. Yogyakarta: LkiS.
Sejarah Perkembangan dan Filosofi Muhammadiyah. (t.thn.). Universitas Sumatera Utara.
Soeratno, S. C. (2009). Muhammadiyah Sebagai Gerakan Seni dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutarno. (2006). Muhammadiyah Gerakan Sosial Keagamaan Modern. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Usman. (2014). Muhammadiyah dan Usaha Pemahaman al-Qur'an. Ushuluddin.





[1] Sutarno, Muhammadiyah Gerakan Sosial Keagamaan Modernis, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2006), h.33
[2]  AR Fakhruddin, Mengenal dan Menjadi Muhammadiyah, (Malang: UMM Press, 2005), h.5
[3]  Ibid, h.6
[4]Ahmad Syafi’i Ma’ arif, Strategi Dakwah Muhammadiyah.
[5] Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-45 tentang Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, pasal 2
[6]Sejarah Perkembangan dan Filosofi Muhammadiyah, Universitas Sumatera Utara, h.5
[7]www.muhammadiyah.or.id, diakses pada tanggal 23 Agustus 2017, pukul 14.05
[8]  Usman, Muhammadiyah dan Usaha Pemahaman al-Qur’an, Jurnal Ushuluddin, Vol.XXI, No.1, Januari 2014, h.85
[9]  M. Idharoel Haq,Al-Islam II Muhammadiyah dan Pembaharuan Islam, Universitas Muhammadiyah Sukabumi, 2008, h. 2
[10] Sejarah Perkembangan dan Filosofi Muhammadiyah, Universitas Sumatera Utara.
[11] Siti Chamamah Soeratno, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Seni dan Budaya: Suatu Warisan Intelektual yang Terlupakan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h.31
[12]Ibid, h.32
[13]Ibid.
[14]Ibid, h.47
[15]Siti Chamamah Soeratno, Muhammadiyah Sebagai Gerakan Seni dan Budaya: Suatu Warisan Intelektual yang Terlupakan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h.54
[16]Sejarah Perkembangan dan Filosofi Muhammadiyah, Universitas Sumatera Utara, h.11
[17]Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, h.2
[18]Ibid,h.3
[19]Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, h.5
[20]  Arif Nur Kholis, Gerakan Muhammadiyah, t.p, t.t
[21]Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah
[22]  Mh. Djaldan Badawi, Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Muhammadiyah 1912-1985, (Yogyakarta: Sekretariat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1998), h.1
[23]Buku Materi Muktamar IRM
[24]  Yeni Rosdianti Rasio, Gerakan Muhammadiyah di Indonesia, t.p, t.t, h.37
[25]  Nur Khalik Ridwan, Nu dan Neoliberalisme: Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad, (Yogyakarta: LkiS, 2008), h.26-27
[26]  Isa Anshori, Perbedaan Metode Ijtihad Nadhatul Ulama dan Muhammadiyah Dalam Corak Fiqih di Indonesia, NIZAM, Vol.4, 2014, h.132
[27]Ibid, h. 133
[28]  Ataufiqur, Gerakan Muhammadiyah  di Indonesia, t.p, t.t, h.70

Komentar

Postingan populer dari blog ini

My Dad is Amazing

Mungkin sebagian orang sudah pernah membaca artikel ini, soalnya artikel ini udah lama,,dan karena artikel ini lah yang bisa membuat sebagian orang untuk lebih berkaca pada dirinya sendiri. Sudah seberapa banyakkah pengorbanan yang kita berikan untuk kedua orangtua yang telah mengasuh kita sampai sekarang. Ussikum wa iyyaya nafsii. Saling mengingatkan saja. My Dad is Amazing Biasanya bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa dan jauh dari orang tua akan merasa rindu sekali dengan ibunya. Lalu bagaimana dengan ayah?. Mungkin karena ibu sering menelpon untuk menanyakan keadaanmu tiap hari, tapi,,tahukah kamu jika ayahlah yang ternyata mengingatkan ibu untuk menelponmu. Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, ibulah yang sering mengajakmu bercerita / dongeng. Tapi tahukah kamu? Bahwa sepulang bekerja dengan wajah yang lelah Ayah selalu menanyakan pada ibu tentang kabarmu dan apa yang kamu lakukan seharian ini. Ketika ayahmu mengajari naik sepeda dan setelah ayah menganggapmu bisa, i...

disaat kehilangan

aku pun tak tau,, apakah maksud dari semua ini,, aku bingung terhadap semuanya,, dan aku bingung untuk menghadapinya,, aku hanya bisa terpaku duduk terdiam,, berteman kan angin malam dan sebuah buku yang selalu menemaniku,, saat ini aku merasa kehilangan,, aku kehilangannya,, ntah kemana dia pergi, jikalau ada orang yang mengatakan" sudah lupakan saja" jujur aku tak bisa melupakannya,, susah,,dan tidak bisa karena darinya lah aku mendapatkan motivasi,,darinya lah aku banyak belajar arti kehidupan,, kini,,aku hanya bisa berharap,, semoga kau bisa mendapatkan semua impianmu, aku tak akan melupakanmu,, karena kau telah terlukiskan diantara jajaran bintang indah dilangit angkasa,, dan karena kehilangan ini,,ku mampu mendekat kepada-Nya @fizam_chairani#17040108
hujan,, hujan mempunyai arti tersendiri dalam setiap individu kita tidak bisa menerka apakah hujan itu mempunyai arti kebahagiaan atau kesedihan bagiku,, hujan bisa menghapus sesuatu yang sebaiknya dibuang jauh,, hujan bisa menghapus tentangnya,,  namun,, hujan bisa membuat diri ini bahagia akan kedatangannya,, karena bagiku, hujan mempunyai cerita tersendiri... dan setiap orang pun mempunyai pandangan yang berbeda tentang HUJAN,,